Detail Kegiatan
Dosen Universitas PGRI Silampari Latih Guru SDIQ Ar-Risalah Integrasikan AI, Teknologi Digital, dan Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Matematika
LUBUKLINGGAU – Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas PGRI Silampari menyelenggarakan lokakarya bertajuk Pendidikan Matematika Berbasis Teknologi Digital, Artificial Intelligence, dan Etnomatematika di Gedung Serbaguna SDIQ Ar-Risalah Lubuklinggau, Selasa (22/9/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 14.00 WIB ini diikuti oleh 26 guru SDIQ Ar-Risalah dengan tujuan meningkatkan kompetensi pedagogik serta memperkaya metode pengajaran matematika di sekolah dasar.
Kegiatan dibuka secara khidmat melalui sambutan dari Kepala SDIQ Ar-Risalah, Ustaz Nike Yuspa, M.Pd.Gr. Dalam pidatonya, Ustaz Nike menyambut baik inisiatif perguruan tinggi yang turun langsung memberikan penguatan kapasitas bagi para pendidik. Beliau menekankan bahwa transformasi pendidikan saat ini menuntut guru untuk tidak hanya menguasai materi ajar secara konseptual, tetapi juga adaptif terhadap disrupsi teknologi agar pembelajaran di kelas berlangsung lebih interaktif dan relevan dengan karakteristik peserta didik generasi digital.
Ketua Tim PKM Universitas PGRI Silampari, Dr. Sukasno, M.Pd., secara resmi membuka acara tersebut. Dr. Sukasno menjelaskan bahwa lokakarya ini merupakan wujud nyata pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dalam menjembatani inovasi akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan. Tim PKM turut diperkuat oleh Dr. Khatibul Umam Zaid Nugroho, S.Kom., M.Pd. dan Dr. Drajat Friansah, S.Si., M.Pd., serta didukung oleh tiga mahasiswa, yakni Zhafira Salsabila, Imam Syahru, dan Rama Nismatul Auliah. Kolaborasi lintas generasi ini dirancang guna memastikan pendampingan teknis kepada setiap peserta berjalan optimal.
Sesi pemaparan materi terbagi ke dalam tiga pokok bahasan utama. Materi pertama mengenai pemanfaatan teknologi digital disampaikan oleh Dr. Khatibul Umam Zaid Nugroho, S.Kom., M.Pd. Beliau mengupas tuntas penggunaan berbagai aplikasi dan platform interaktif yang memudahkan guru dalam memvisualisasikan rumus maupun pola matematika yang kerap dianggap abstrak oleh siswa sekolah dasar.
Pada sesi kedua, Dr. Sukasno, M.Pd. membawakan topik pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia edukasi. Pembahasan difokuskan pada bagaimana para guru dapat memanfaatkan perangkat AI generatif guna menyusun rancangan pembelajaran, membuat instrumen evaluasi yang variatif, serta merancang diferensiasi belajar yang sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing peserta didik.
Sesi penutup menghadirkan Dr. Drajat Friansah, S.Si., M.Pd. yang memaparkan materi etnomatematika. Beliau mengajak para peserta mengaitkan konsep matematika dengan unsur kebudayaan lokal, permainan tradisional, serta arsitektur daerah. Pendekatan ini dinilai krusial agar pembelajaran matematika terasa dekat, bermakna, dan mampu menumbuhkan apresiasi budaya pada siswa.
Sepanjang lokakarya, 26 guru tampak antusias menyimak pemaparan, berdiskusi aktif, dan mempraktikkan langsung perangkat yang diperkenalkan. Lokakarya resmi berakhir pada pukul 14.00 WIB dengan harapan para guru mampu menerapkan integrasi teknologi mutakhir dan kearifan lokal di ruang-ruang kelas secara berkesinambungan.